Pitutur tersebut begitu terpatri pada setiap jiwa warga Bawean. Maka, dimulai pada abad ke 18 sampai saat ini warga Bawean merantau ke seantero dunia. Walau demikian sejak zaman penjajahan Belanda sampai saat ini penduduk Bawean tidak beranjak dari angka tujuh puluh ribuan. Hal ini bukan berarti perogram keluarga berencana berhasil sehingga dapat menekan pertumbuhan penduduk zeo grout (pertumbuhan nol), melainkan begitu ada yang lahir, pasti ada yang merantau.
Rabu, 16 Maret 2011
Tentang Masyarakat Bawean
Masyarakat Bawean dikenal sebagai masyarakat Perantau. Ada pitutur yang mengatakan ; “Janganlah membuka sewek sebelum membuka pintu langit. Janganlah membuka pintu langit sebelum menguasai ilmu lahir dan batin”. Maksudnya adalah : “janganlah menikah sebelum merantau. Janganlah merantau sebelum menguasai pencak silat (ilmu lahir) dan hatam al Qur’an, kitab Safinah dan Sullah, serta dapat membaca kitab Barzanji dengan suara merdu (ilmu batin).
Pitutur tersebut begitu terpatri pada setiap jiwa warga Bawean. Maka, dimulai pada abad ke 18 sampai saat ini warga Bawean merantau ke seantero dunia. Walau demikian sejak zaman penjajahan Belanda sampai saat ini penduduk Bawean tidak beranjak dari angka tujuh puluh ribuan. Hal ini bukan berarti perogram keluarga berencana berhasil sehingga dapat menekan pertumbuhan penduduk zeo grout (pertumbuhan nol), melainkan begitu ada yang lahir, pasti ada yang merantau.
Pitutur tersebut begitu terpatri pada setiap jiwa warga Bawean. Maka, dimulai pada abad ke 18 sampai saat ini warga Bawean merantau ke seantero dunia. Walau demikian sejak zaman penjajahan Belanda sampai saat ini penduduk Bawean tidak beranjak dari angka tujuh puluh ribuan. Hal ini bukan berarti perogram keluarga berencana berhasil sehingga dapat menekan pertumbuhan penduduk zeo grout (pertumbuhan nol), melainkan begitu ada yang lahir, pasti ada yang merantau.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Apa bahasa masyarakat setempat? Apakah terdapat dominasi bahasa madura seperti di daerah tapal kuda jawa?
BalasHapusKalau bahasa yang di pakai sehari-hari itu bahasa daerah yaitu bahasa bawean sendiri,
Hapusantara bahasa bawean dan madura menurut saya sendiri berbeda tapi ada juga yang sama. Dan cara berbicara (logat)nya sih berbeda